Pupuk HIJAUPupuk Organik Terbaik dari PT Legiri Makmur Sentosa

"pupuk

Pendahuluan

Akhir-akhir ini masyarakat dunia menyadari bahwa kondisi bumi sudah semakin kritis. Polusi emisi gas buang karbondioksida membuat rusak lapisan ozon serta membuat suhu di permukaan bumi menjadi meningkat. Naiknya suhu yang meningkat tajam dan mulai mencairnya gunung es di kutub utara adalah gambaran negatif dari rusaknya lingkungan. Sadar dengan permasalahan global yang ada, berbagai pertemuan yang membahas permasalahan ini terus diadakan. Salah satu solusi yang ingin dicapai adalah dengan program Go Green, sebuah kegiatan yang tujuannya memperbaiki kondisi bumi dengan cara merubah perilaku masyarakat untuk lebih peduli dan proaktif terhadap lingkungan. Pemerintah Indonesia sendiri kemudian merespon positif hal ini dengan mencetuskan program Go Green pada tahun 2010.

Diharapkan pada tahun 2010 Indonesia sudah mampu untuk memperbaiki lingkungannya yang selama ini telah rusak oleh zat kimia. Isu perbaikan lingkungan kemudian dilanjutkan ke sektor pertanian. Kebijakan pembangunan pertanian yang dilakukan pada beberapa periode yang lalu yang menekankan pada peningkatan produksi dengan menggunakan bahan-bahan kimia berupa pupuk anorganik dan pestisida sintetik telah memberikan kontribusi besar terhadap timbulnya pencemaran terhadap lingkungan (air, tanah) serta kesehatan manusia dan hewan. Penggunaan bahan kimia yang berlebihan telah membuat kerusakan tanah, baik fisik, kimia maupun biologi tanah. Hal itu akan berpengaruh pada rusaknya ekosistem dan dalam jangka panjang akan mengganggu kesehatan manusia.

Salah satu upaya massif guna mengatasi dan mencegah kerusakan ekosistem yang semakin parah adalah memanfaatkan bahan-bahan organik, baik pupuk organik maupun pestisida organik. Peralihan cara tanam dengan menggunakan pupuk dan pestisida organik dapat menjadi salah satu solusi yang tepat untuk dunia pertanian yang selama ini amat tergantung akan penggunaan pupuk kimia dan pestisida anorganik.

Melihat kondisi dan peluang tersebut, sejak enam tahun lalu PT. MURAKABI AGUNG WIJAYA terus mengembangkan sarana produksi pertanian yang berbasis organik. Dua komoditi yang dikembangkan dan diproduksi adalah pupuk organik (bokashi) dengan nama dagang “HIJAU” dan biopestisida dengan nama dagang TRICOVIRIN, GLIOVIRIN, BEVANGIT dan METARET.

 

Bokashi Hijau

Karakteristik Bokashi “HIJAU”

Pupuk organik/bokashi “HIJAU” dibuat dari pupuk kandang/kotoran sapi yang diproses melalui fermentasi dengan EM-4. Efektif Mikroorganisme (EM) merupakan kultur campuran berbagai jenis mikroorganisme yang bermanfaat, yaitu bakteri sintetik, bakteri asam laktat, ragi, actinomycetes, dan jamur yang dapat dimanfaatkan inokulan untuk meningkatkan keragaman mikrobia tanah.

Kandungan bahan organik dan hara makro dalam bokashi “HIJAU” relatif tinggi (lihat tabel)

tabel bokashi1

Bokashi “HIJAU” tidak mengandung bahan-bahan/limbah berbahaya, seperti logam berat, bahan beracun, pecahan kaca, potongan kawat, besi dan sejenisnya. Karena bokashi “HIJAU” diproses dari kotoran sapi. Yang lebih spesifik dari bokashi “HIJAU” adalah ke dalam formulasi tersebut
sudah diinokulasi dengan agen pengendali hayati (APH) yang dapat mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Sehingga bokashi “HIJAU”
mempunyai fungsi ganda, disamping berfungsi sebagai pupuk organik, juga dapat mengendalikan hama/penyakit tanaman. Jenis APH yang diinokulasikan ke dalam formulasi tergantung dari sasaran hama/penyakitnya. Sebagai contoh, apabilaakan digunakan pada tanaman yang banyak serangan patogen/penyakit yang tertular lewat tanah (soil borne) seperti Fusarium, Phytophthora, Pythium, Rhizoctonia dsb, maka ke dalam formulasi tersebut akan diinokulasi dengan “TRICOVIRIN”/”GLIOVIRIN”. Apabila akan digunakan pada tanaman yang banyak serangan hama uret, maka ke dalam formulasi tersebut akan diinokulasi dengan “METARET”.

Karena bokashi “HIJAU” dibuat melalui proses fermentasi dan bentuk akhir berupa serbuk/tepung yang remah, maka hara yang terdapat di dalamnya dapat segera diserap oleh tanaman (fast release). Sehingga, efek terhadap tanaman dapat segera terlihat. Begitu juga efektifitas APH dapat segera menanggulangi serangan hama/penyakit.

Manfaat Bokashi “HIJAU”

Manfaat dari bokashi “HIJAU” dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok,
yaitu manfaat terhadap tanah (biologi, kimia dan fisika tanah) dan manfaat
terhadap tanaman.
Manfaat terhadap tanah memiliki peranan/fungsi terhadap kualitas dan kesehatan
tanah.
a. Fungsi Biologi:

  • Menyediakan makanan dan tempat hidup (habitat) bagi organisme tanah.
  • Menyediakan energi untuk proses-proses biologi tanah.
  • Memberikan kontribusi pada daya pulih (resiliansi) tanah.

b. Fungsi Kimia:

  • Menambah input hara makro dan mikro.
  • Merupakan ukuran kapasitas retensi hara tanah.
  • Menyimpan cadangan hara penting, khususnya N dan K.

c. Fungsi Fisika:

  • •Mengikat partikel-partikel tanah menjadi lebih remah untuk meningkatkan
  • stabilitas struktur tanah.
  • Meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air. Perubahan moderate terhadap suhu tanah.

Manfaat bokashi “HIJAU” terhadap tanaman adalah:
a. Memacu pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman, yaitu :

  • Memperbanyak keluarnya tunas dan cabang produktif.
  • Mempercepat pertumbuhan tanaman.
  • Mempercepat serta memperbanyak terbentuknya bunga yang akan
  • membentuk buah produktif.
  • Meningkatkan kesuburan tanaman.

b. Mencegah serangan hama/penyakit.

proses-hijau
3. Sebaran Penggunaan Bokashi “HIJAU”

Hingga saat ini bokashi “HIJAU” sudah banyak digunakan oleh para petani di
beberapa daerah/propinsi: Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY, Sleman, Bantul,
Kulonprogo), Jawa Tengah (Brebes, Kedu, Pati, Surakarta), Jawa Timur (Ponorogo,
Nganjuk, Ngawi) dan Jawa Barat (Cirebon, Indramayu). Bokashi “HIJAU”
digunakan pada berbagai komoditi, baik pangan (padi, jagung), sayur dan buah (bawang merah, cabe, tomat, melon, salak pondoh) dan tanaman hias (pertamanan).

 

4. Cara Aplikasi Bokashi “HIJAU”

Kebutuhan dan cara aplikasi bokashi “HIJAU” dapat dilihat pada tabel berikut.

 

tabel-edit

C. Penutup

Setelah melalui banyak percobaan dan pengamatan terhadap para petani yang menggunakan bokashi "HIJAU" dan biopestisida, kedua produk tersebut sangat efektif meningkatkan produksi tanaman mereka, baik secara kuantitas maupun kualitas. Meskipun demikian, dalam perjalanan pengembangan pupuk organik dan biopestisida selama ini masih ditemui beberapa kendala. Kendala utama adalah sulitnya merubah kebiasaan mereka dalam menjalankan usaha pertaniannya. Mereka masih sangat tergantung pada pupuk kimia dan pestisida anorganik, meskipun dampak negatif dari penggunaan bahan ini sudah sangat mereka rasakan, termasuk masyarakat yang mengkonsumsi produk mereka. Namun demikian, PT. Murakabi Agung Wijaya akan terus memasyarakatkan penggunaan produk-produk yang berbasis organik. Begitu juga, PT. Murakabi Agung Wijaya saat ini masih terus mencari dan mengembangkan biopestisida dengan APH lain yang juga efektif mengendalikan hama/penyakit tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Ke depan, para pelaku bisnis bidang pertanian diharapkan dapat merubah paradigma mereka dengan menggantikan pertanian yang berbasis petrokimia menjadi pertanian yang berbasis energi matahari dan kegiatan biologi. Ketergantungan kita yang cukup tinggi terhadap input yang berasal dari sumberdaya tak terbarukan, seperti fosfat dan minyak, tidak dapat lebih lama lagi.